Senin, 26 Desember 2016

[Resensi Novel] Tentang Kamu – Tere Liye



[Identitas Buku]
Judul Buku      : Tentang Kamu
Penulis             : Tere Liye
Editor              : Triana Rahmawati
Penerbit           : Republika Penerbit
Cetakan           : Cetakan Ke-1
Tahun Terbit    : Oktober 2016
Halaman          : 524 halaman
ISBN               : 978-602-08-2234-1
Harga              : Rp. 79.000,- (sebelum diskon di http://bukurepublika.id/products/detail/279/Tentang-Kamu)
My Rating       : 5 / 5 *
 ***** 
[Resensi]
“Apa harta yang akan dibawa mati saat kita meninggal?”

Zaman menjawab pendek, “Tidak ada, Sir, selain apa-apa yang kita belanjakan untuk kebaikan. Sisanya akan ditinggalkan, bahkan diperebutkan.” (Hal. 430)


Zaman Zulkarnaen adalah seorang pengacara di firma hukum Thompson & Co. Firma hukum ini berada di bidang heir hunters, yaitu firma hukum yang secara khusus menangani masalah harta yang ditinggalkan tanpa wasiat. Heir hunters lebih mirip detektif meskipun mereka seorang lawyer, karena mereka bertugas untuk mencari ahli waris yang tepat dari harta yang ditinggalkan, yang kemudian akan memberikan penyelesaian terhadap harta waris tersebut dengan seadil-adilnya.
Hari itu, Zaman tidak menyangka jika dirinya mendapatkan sebuah tugas unik sekaligus memusingkan, bagaimana tidak unik, jika kliennya ini meninggal di sebuah panti jompo di Paris, terlihat biasa saja bukan?. Namun, pada kenyataannya kliennya ini mewariskan aset berbentuk kepemilikan saham senilai satu miliar poundsterling, atau setara 19 triliun rupiah. Dengan warisan sebanyak itu, dia lebih kaya dari ratu Inggris. Lalu, mengapa justru Ia berakhir di sebuah panti jompo sederhana di kota Paris? Dan yang menjadikan kasus ini menjadi sangat unik untuk Zaman adalah kenyataan bahwa kliennya merupakan orang Indonesia, negara asal Zaman. Sedangkan, fakta yang membuat Zaman pusing adalah kenyataan bahwa sang klien tidak meninggalkan surat wasiat kepada Thompson & Co.
“… Firma hukum kita hanya menyimpan surat keterangan jika wanita tua ini adalah pemilik sah 1% surat saham di perusahaan besar. Surat keterangan itu dititipkan beberapa tahun lalu oleh pihak ketiga, melalui pos. … Thompson & Co. diberikan mandat untuk menyelesaikan harta warisan wanita tua ini seadil-adilnya sesuai hukum yang berlaku.” (Hal. 13)


Wanita tua itu bernama Sri Ningsih, dia lah yang menjadi tokoh utama di novel ini, melalui tokoh Zaman pembaca akan diajak menelusuri kehidupan Sri Ningsih dalam rangka mencari siapa ahli waris yang berhak mendapatkan harta tersebut. Zaman rela menelusuri jejak kehidupan Sri Ningsih ke berbagai negara dan wilayah, mendengarkan setiap cerita kehidupan yang dilalui oleh Sri Ningsih dari orang-orang yang mengenalnya. Petunjuk yang dimiliki oleh Zaman hanyalah buku diary tipis yang Ia dapatkan dari Madame Aimee, yang merupakan seorang petugas panti tempat Sri Ningsih menghembuskan nafas terakhirnya.
“… Buku catatan ini sederhana. Hanya ada sepuluh halaman yang berisi tulisan, dibagi menjadi lima bagian, masing-masing dua halaman. Setiap bagian hanya ada satu-dua paragraf pendek, beserta satu-dua foto yang ditempelkan di halaman bagian itu. …” (Hal. 48)


Zaman pun berpacu dengan waktu, Ia harus segera menemukan ahli waris harta Sri Ningsih, karena jika tidak berhasil, harta tersebut akan diambil alih oleh lembaga pemerintah Bona Vacantia. Meskipun begitu, Ia tidak boleh ceroboh, Ia harus menelusuri kehidupan Sri Ningsih agar bisa mendapatkan petujuk mengenai asal usul harta warisan tersebut. Sri Ningsih telah mempercayai firma hukum Thompson & Co., oleh sebab itulah Zaman tidak boleh mengecewakannya.
“Aku harus mengingatkan, firma hukum ini berbeda dengan ribuan firma hukum lainnya. Ayahku mendirikan firma ini dengan prinsip-prinsip yang kokoh. Penuh kehormatan. Kita adalah kesatria hukum, berdiri tegak di atas nilai-nilai luhur. Kamu akan memastikan wanita tua yang malang itu mendapatkan penyelesaian warisan seadil mungkin menurut hukum. Dia akan beristirahat dengan tenang jika tahu harta warisannya telah diselesaikan dengan baik, tidak berakhir di Bona Vacantia, atau lebih serius lagi, jatuh kepada penipu.” (Hal. 14)


Perjalanan Zaman pun dimulai, dari panti jompo di kota Paris, kemudian Zaman mendatangi Pulau Bungin di Sumbawa, menyaksikan cerita kekejaman pemberontakan PKI di Surakarta, mencari jejak usaha Sri Ningsih di Jakarta, mendengarkan cerita cinta Sri Ningsih di London, dan kembali lagi ke Paris. Perjalanan yang sangat panjang dan menguras emosi Zaman, meskipun Ia belum pernah bertemu dengan Sri Ningsih secara langsung, tetapi menelusuri jejak kehidupannya membuatnya seolah ikut merasakan perjuangan hidup Sri Ningsih, dan Ia pun berusaha sebanyak mungkin mengambil pelajaran kehidupan yang telah dilalui oleh Sri Ningsih. Bagaimana petualangan Zaman dalam memecahkan kasus ini? Dan pada akhirnya, siapakah yang berhak mendapatkan harta warisan Sri Ningsih tersebut? Selamat Membaca! : ))
*****

Cover novel ini sangat sederhana, hanya ada gambar sepasang sepatu yang telah terlihat agak usang. Sebelum novelnya terbit, Tere Liye membuat sebuah survey di halaman facebook nya mengenai pemilihan cover untuk novel tentang kamu, dan hasil terbanyak memilih gambar sepatu, yang kemudian dijadikanlah cover depan untuk  novel ini. Menurut saya, gambar sepatu cukup untuk mewakili jalan cerita di novel ini, yaitu tentang perjalanan hidup sang tokoh utamanya. Selain itu, warna cover nya termasuk netral, sehingga untuk pembaca laki-laki yang ingin membaca novel ini di tempat umum tidak akan merasa sungkan atau malu.
Di novel ini Tere Liye mencoba menampilkan beragam bahasa, menyesuaikan dengan latar tempat ceritanya. Meskipun hanya sedikit, tetapi beberapa bagian menurut saya berhasil mengajak pembaca untuk mengikuti dialog tokoh-tokohnya. Terutama dibagian penggunaan bahasa Betawi dan beberapa kalimat sapaan dalam bahasa India yang dilakukan oleh keluarga Rajendra Khan, seperti Aabu, Aami, Baihan, Choti, dan lainnya.
“Iya. Aye ingat banget, Februari tahun 1970, banjir sampe dua meter di Sudirman ama jembatan Semanggi. Bayangin, dua meter. Kita bisa nyelam di banjiran, … ” (Hal. 223)


Baihan, apakah aku boleh main ke sini? … Di bawah kadang terlalu ramai, apalagi kalau Bhai Rajendra ada, dia selalu menggangguku.” (Hal. 329)

     Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga. Sudut pandang jenis ini membuat pembaca dapat lebih mengenal dan mendalami karakter tokoh Sri Ningsih. Membaca novel ini seperti sedang  menyimak narasi yang disampaikan oleh Zaman tentang episode demi episode hidup Sri Ningsih, dan seolah-olah membuat pembaca sedang menikmati cerita di dalam cerita. Pembaca juga akan menjadi saksi betapa gigihnya Zaman dalam menelusuri jejak kehidupan Sri Ningsih. Pokoknya asyik dan seru.
     Novel ini memiliki banyak tokoh dengan berbagai karakteristik, karena memang penggunaan latar tempat yang banyak. Tokoh-tokoh tersebut diperlukan untuk mendukung jalannya cerita, setiap tokoh yang muncul memiliki peranan yang cukup berarti, dan membekas di hati pembaca, di dalam novel ini tidak ada tokoh yang tidak memiliki peran penting, bahkan penjual makanan di kios tempat biasa Zaman membeli roti daging pun memiliki benang merah terhadap kasus yang sedang diselesaikannya. Penokohan yang banyak memang sudah menjadi ciri khas novel-novel Tere Liye.
      Novel ini termasuk ke dalam genre apa? Ah, Tere Liye saja bingung ketika mendapatkan pertanyaan seperti ini, apalagi saya :D. Novel ini termasuk paket komplit, ada tentang hukumnya, action, sejarah, dan tentunya juga romance. Saya setuju dengan Tere Liye yang mengatakan bahwa novel ini termasuk jenis novel biografi, meskipun tokohnya fiksi.  Novel ini berhasil menyuguhkan biografi Sri Ningsih dari lahir hingga meninggal dunia. Naah, tapi tenang saja, meskipun tebal dan sejenis biografi, pembaca tidak perlu takut bosan karena alurnya yang cepat dan jalan cerita yang menjanjikan membuat pembaca tidak sabar untuk dapat menyelesaikan novel ini.
      Novel ini menggunakan alur maju – mundur, sebagian besar menggunakan alur mundur untuk mengenang kisah tentang Sri Ningsih, sedangkan penggunaan alur maju digunakan untuk tokoh Zaman dalam menyelesaikan perkara harta warisan Sri Ningsih. Alur novel ini menyajikan lima bagian kehidupan Sri Ningsih yang ditulis berdasarkan waktu, yaitu Juz pertama tentang kesabaran tahun 1946 – 1960, Juz kedua tentang persahabatan tahun 1961-1966, Juz ketiga tentang keteguhan hati tahun 1967 – 1979, Juz keempat tentang cinta tahun 1980 – 1999, dan Juz kelima tentang memeluk semua rasa sakit tahun 2000 - … .
      Oh iya, novel ini sesungguhnya termasuk novel yang sangat serius karena alur di novel ini dibuat untuk dapat bersinggungan dengan berbagai peristiwa penting dan bersejarah, seperti pemberontakan PKI, peristiwa Malari, dan millennium bug. Tetapi jangan khawatir, meskipun bersinggungan dengan peristiwa-peristiwa serius, novel ini tidak akan membosankan seperti saat mendengarkan ceramah pada pelajaran sejarah :D, sebagai penulis novel fiksi, Tere Liye berhasil menyatukan peristiwa sejarah tersebut ke dalam alur ceritanya, sehingga selain menikmati alur ceritanya, pembaca pun mendapatkan banyak manfaat dan informasi tambahan untuk dapat mengenal beberapa peristiwa sejarah.
“Tahun-tahun itu, tanpa Sri sadari, gejolak politik tengah panas-panasnya di Pulau Jawa. Itu tinggal hitungan bulan dari meletusnya pemberontakan besar akhir September 1965, saat kelompok yang menamakan dirinya Partai Komunis Indonesia (PKI) berusaha habis-habisan menyusun rencana mengambil-alih kekuasaan yang sah. …”. (Hal. 181)


     Setelah diajak menyaksikan pemberontakan PKI di Surakarta, pembaca selanjutnya akan diajak untuk menyaksikan peristiwa Malari atau Malapetaka 15 Januari 1974 yang terjadi di Jakarta. Peristiwa Malari ini dijelaskan melalui penuturan seorang tukang ojek yang bernama Sueb saat Zaman sedang menelusuri kehidupan Sri Ningsih di Jakarta, dan menggunakan sudut pandang Sueb yang pernah menyaksikan peristiwa tersebut. Sueb memang tidak mengenal dan belum pernah bersinggungan langsung dengan kehidupan Sri Ningsih, tetapi penjelasan dari Sueb cukup mewakili alasan mengapa pada tahun tersebut bisnis Sri Ningsih yang sedang berkembang pesat harus mengalami kebangkrutan.
“Waktu itu, usia aye belum genap dua puluh tahun. Sedari pagi ada kali ribuan orang pada kumpul. Tambah siang, tambah banyak. Tentara ama polisi kagak sanggup ngadepin mereka, dan kagak tahu siapa yang mulai, keributan meletus di mana-mana. Orang-orang pada beringas, termasuk maksa masuk pangkalan udara Halim ama Istana. … Orang-orang pada ngamuk, ngerusak semua barang yang bermerk Jepang, mulai dari mobil, sepeda, motor, sampai barang-barang elektronik, dibakar atau dilempar ke sungai. …”. (hal. 251 -252)

         
      Peristiwa terakhir yaitu millennium bug yang dijadikan Tere Liye sebagai akhir perjalanan Sri Ningsih di London dan menjadi awal perjalanannya di Paris. Ah, Tere Liye ini benar-benar cerdas dalam menghubungkan satu peristiwa sejarah dengan rangkaian peristiwa untuk tokoh di novelnya.
“Tahun 1999 tiba, dunia dihebohkan oleh Y2K, masalah penanggalan komputer, millennium bug. Eror yang terjadi karena sistem penanda tahun komputer di seluruh dunia sudah terlanjur di-setting dengan dua digit, maka tahun 00 (merujuk tahun 2000), akan dianggap sama dengan 1900 oleh komputer.” (Hal. 415)


“Persis tanggal 31 Desember, saat seluruh dunia merayakan pesta tahun baru sekaligus millennium baru, Sri Ningsih diam-diam meninggalkan apartemennya.” (Hal. 416)
           
      Dan, ada satu hal lagi yang membuat saya kembali terpesona dengan kemampuan menulis Tere Liye, yaitu mengenai alasan mengapa Sri Ningsih harus kehilangan bayinya untuk kedua kalinya, alasan yang digunakan sangatlah logis, yaitu menggunakan teori penggolongan darah berdasarkan rhesus. Hal ini akan membuat pembaca mendapatkan informasi baru mengenai salah satu resiko pernikahan dengan perbedaan rhesus.
“… Saat istrinya memiliki rhesus negatif, sedangkan suaminya rhesus positif, saat istri hamil, bayi yang dikandungnya bisa dianggap benda asing. Tubuh ibunya menghasilkan antibodi atau antirhesus yang menyerang bayinya sendiri.” (Hal. 403)


      Oh iya, tetapi ada satu hal yang tidak konsisten di novel ini, yaitu beberapa kali saya menemukan nama Sri Ningsih ditulis menjadi Sri Rahayu, terutama di bagian-bagian awal, saat Ode sedang menceritakan kisah Sri Ningsih di Pulau Bungin. Lumayan mengganggu sih sebenarnya, tapi yasudahlah tidak mengapa, karena di dunia ini memang tidak ada yang sempurna.
“… Dan sejak saat itu, Nusi Maratta berubah amat membenci Sri Rahayu, bahkan kemudian tega menyebut Sri dengan sebutan ‘anak kecil yang dikutuk’.” (Hal. 84)


“Hari itu, tahun 1995, usia Sri Rahayu menjelang sembilan tahun, itulah terakhir kali Sri melihat bapaknya. …” (Hal. 96)

           
Buat para pembaca yang penasaran, apakah ada cerita romance di dalam novel ini? Sepertinya novel ini serius sekali? Tenang saja, tentu saja ada, bagian termanis dari hidup Sri Ningsih, yaitu bagian Tentang Kamu. Kisah romance di novel ini memang tidak terlalu banyak, tapi entah mengapa, justru buat saya tetap terasa cukup dan sudah sangat sesuai dengan porsinya. Tere Liye memang cukup kejam dalam menciptakan takdir untuk tokoh Sri Ningsih, tapi saya senang saat membaca bagian Sri Ningsih akhirnya jatuh cinta, di bagian ini saya merasa, akhirnya Tere Liye memberikan kesempatan Sri Ningsih untuk dapat tersenyum malu-malu dan merasakan cinta di hidupnya. Untuk pembaca yang menyukai cerita romance, saya rasa kalian perlu membaca novel ini, dan kamu pasti akan jatuh cinta dengan sosok Hakan Karim.
       Naah, sesungguhnya pesan apa sih yang ingin disampaikan oleh Tere Liye melalui novel setebal 524 halaman ini? Menurut saya banyak pesan yang ingin disampaikan oleh Tere Liye melalui novel ini, diantaranya yaitu belajar tentang menghadapi dan memeluk semua rasa sakit hati, kecewa, marah, kegagalan, dan seluruh kejadian-kejadian menyedihkan, lalu berusaha untuk terus melangkah ke depan agar mendapatkan peluang-peluang hidup yang lebih baik lagi, percayalah, di depan sana masih ada hal-hal baik yang menunggu kesempatan untuk diraih. Oh iya, itu sih versi saya, untuk mendapatkan pesan sesungguhnya kalian harus membaca dan menyelesaikan novel ini sendiri. : )
Selamat membaca dan selamat berkenalan dengan Sri Ningsih yang amat sederhana :))
 
“Selama bapak pergi, hormati dan patuhi ibumu. Lakukan apa yang dia suruh tanpa bertanya. Turuti apa yang dia perintahkan tanpa membantah. Jangan mudah menangis, jangan suka mengeluh… Bersabarlah dalam setiap perkara.” (Hal. 95)


“… Aku tidak pernah melihat wanita sekokoh Sri Ningsih, yang bisa memeluk kejadian semenyakitkan apa pun. Tidak membenci, tidak mendendam …. Hanya dia.” (Hal. 151)


“Aku tahu sekarang, pertanyaan terpentingnya bukan berapa kali kita gagal, melainkan berapa kali kita bangkit lagi, lagi, dan lagi setelah gagal tersebut. Jika kita gagal 1000x, maka pastikan kita bangkit 1001x.” (Hal. 210)


“… Jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru. …” (Hal. 278)


“Dalam kehidupan, masa sekarang dan masa depan jauh lebih penting, karena masa lalu, sehebat apa pun itu telah tertinggal di belakang.” (Hal. 375 – 376)


“Sungguh, terimakasih untuk kesempatan mengenalmu, Sri. Itu adalah satu anugerah terbesar dalam hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cinta-lah yang akan menemukan kita.” (Hal. 408)


“Karena pada akhirnya, semua hal memang akan selesai, memiliki ujung kisah. Maka saat itu berakhir, aku tidak akan menangis sedih, aku akan tersenyum bahagia karena semua hal itu pernah terjadi.” (Hal. 409)


“Lanjutkan kisah hidupmu, kamu akan memiliki petualangan hidup berikutnya yang lebih panjang. Penuhi mimpi-mimpi lamamu, melihat dunia. …” (Hal. 409)
***** 
*Tulisan ini diikutkan dalam "Lomba Resensi Novel Tentang Kamu - Tere Liye" yang diadakan oleh Republika Penerbit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar