Kamis, 22 Desember 2016

[Resensi Novel] Love in Edinburgh – Indah Hanaco




[Identitas Buku]
Judul Buku      : Love in Edinburgh
Penulis             : Indah Hanaco
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Cetakan Ke-1
Tahun Terbit    : 2016
Halaman          : 232 Halaman
ISBN               : 978-602-03-2534-7
Harga              : Rp. 58.000,- (http://www.gramedia.com)
My Rating        : 3.8 / 5 *

[Sinopsis]
      Katya adalah karyawati toko kue di Edinburgh yang aktif sebagai relawan di beberapa badan amal. Sementara Sebastian adalah pemiliki perusahaan parfum yang sedang menyiapkan masa depan bersama kekasihnya.
       Lewat sebuah reality show berjudul Underground Magnate, keduanya bertemu. Sejak awal, mereka punya banyak perbedaan. Katya, muslimah yang menemukan Tuhan justru saat berada jauh dari kota kelahirannya, Jakarta. Sebastian, pria Yahudi yang cenderung menjadi islamophobia usai ibunya menjadi salah satu korban runtuhnya gedung WTC. Namun, ada terlalu banyak hal tak terduga yang terjadi. Reaksi kimia di antara mereka terlalu kuat untuk diabaikan.
      Ketika akhirnya Katya dan Sebastian punya kans untuk bersama, dosa masa lalu menghantui keduanya, menuntut penyelesaian. Bisakah cinta membuat mereka tetap bertahan?
****

[Resensi]
“Saat ini, orang bisa melakukan kejahatan yang sulit dibayangkan mampu dilakukan oleh manusia. Tapi, satu hal yang pasti, orang yang takut pada murka Tuhan, yang menjalani agamanya sebaik yang dia mampu, takkan sanggup menjahati oranglain. Dan aku bisa memastikan satu hal, aku orang yang takut pada Tuhan.” (Hal. 89)

      Edinburgh adalah ibukota Skotlandia, salah satu kota yang masih berada di wilayah Inggris Raya, dan juga merupakan kota dengan banyak bangunan berbentuk kastil. Katya Nefertiti adalah Warga Negara Indonesia, Ia sudah menikah dan mengalami KDRT yang dilakukan oleh suaminya, yang membuatnya lebih tragis adalah sang kakak kandung tidak mempercayai semua ceritanya, Katya pun takut kalau kedua orangtuanya akan bersikap sama seperti kakaknya, hal ini yang akhirnya membuat Katya memutuskan untuk kabur dari rumah dan sampailah takdir membawanya ke kota Edinburgh, setelah melalui perjalanan yang sangat panjang.
        Sebastian Meir adalah seorang pengusaha parfum yang telah melamar sang kekasih yaitu Bridget. Sebastian cukup optimis dengan jalan hidupnya, tetapi ternyata, dua hari setelah melamar sang kekasih, Ia justu semakin tahu bahwa kekasihnya tidak ingin menikah dalam waktu dekat, berbeda sekali dengan harapan yang dimiliki oleh Sebastian. Dan ternyata Bridget mengajukan perjanjian pranikah yang semakin membuat Sebastian kesal.
“Sederet pekerjaan yang sudah menunggu Bridget ditambah masalah perjanjian pranikah menjadi kombinasi yang menyusahkan Sebastian. Selain itu, meski masalah yang membelit mereka belum menemukan muaranya, Bridget malah bersikeras meninggalkan London untuk bekerja. Hal itu menambah rasa frustasi Sebastian.” (Hal. 48)

        Satu per satu masalah yang yang terjadi diantara Sebastian dan Bridget akhirnya membuat Sebastian mencari sebuah pelarian dengan mengikuti acara reality show yang berjudul Underground Magnate. Acara ini mengharuskan Sebastian untuk menyamar sebagai pembuat film dokumenter tentang badan amal yang nantinya Ia sendiri akan memberikan sumbangan dana kepada badan amal yang dirasa layak menerima bantuan tersebut. Acara inilah yang akhirnya membawa Sebastian ke Edinburgh dan bertemu dengan Katya.
       Katya memang aktif dibeberapa badan amal, hal inilah yang akhirnya membuat Katya menjadi sumber informasi dan membantu Sebastian dalam pembuatan film dokumenter tersebut. Terlebih dahulu, Katya menjelaskan mengenai 3 badan amal yang cukup sering Ia kunjungi karena memang menjadi relawan di sana, yaitu We Are Family, Solitude, dan Good Karma.

“Yang pertama We are Family, Evelyn yang mendirikannya dan memastikan tetap berjalan selama bertahun-tahun. … We are Family rutin menyediakan sarapan untuk para tunawisma. Saat ini We are Family didatangi sekitar seratus orang tiap paginya.”
(Hal. 38-39)


“Selain itu, ada Solitude. Badan amal ini diperuntukkan bagi anak muda antara dua belas sampai dua puluh tahun. Anak-anak itu ada yang sudah masuk penjara, punya keluarga yang berantakan, putus sekolah. Mereka bergabung di Solitude untuk mencari aktivitas positif. Pendiri Solitude, Stuart Goddard, mantan polisi. Cita-citanya saat mendirikan Solitude adalah untuk menjauhkan anak-anak dari jalanan.”(Hal. 39)


“Good Karma … Itu semacam kelompok pendukung untuk orang-orang yang mengalami kekerasan. Juga anggota keluarga mereka, jika korbannya sudah meninggal. Good Karma menggelar pertemuan rutin setiap akhir pekan.” (Hal. 40)


       Hari itu, selain mengunjungi We are Family, Sebastian juga datang ke Solitude bersama Katya. Di tempat itulah, Sebastian menemukan fakta baru mengenai Katya. Pada saat Katya baru selesai berdoa dan masih memakai mukena, ternyata tepat dibelakangnya ada Sebastian yang sedang memperhatikan dirinya.
“Kau…sedang apa?” Sebastian memandangnya dengan kening berlipat.

“Oh…aku baru selesai beribadah,” Katya melepas mukenanya.

Sebastian menatapnya dengan mata menyipit tapi tidak bicara apa-apa. Setelahnya, Katya bisa merasakan laki-laki itu berubah drastis. Keramahannya tereduksi dengan ganjil. Katya mendadak diliputi firasat aneh. (Hal. 45)


      Bagaimanakah Sebastian dan Katya akan bersatu jika diantara mereka justru terdapat jurang perbedaan yang siap menghadang? Dan akankah mereka berdua terus berada dalam pelarian dengan masalah masing-masing?
****
      Tema sentral novel ini adalah romance, tetapi selain romance sisi kemanusiaan pun cukup mendominasi cerita, pembaca juga diajak untuk belajar menerapkan toleransi antar agama, serta belajar untuk mengasihi oranglain tanpa membedakan ras, suku, dan agama.
       Alur yang digunakan adalah alur maju, tetapi banyak juga alur mundur yang digunakan oleh penulis sebagai penguat jalannya cerita, serta untuk memperkuat karakter tokoh-tokohnya. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga serba tahu (PoV ketiga), di mana penulis menggunakan sudut pandang Katya dan Sebastian. Pemilihan sudut pandang ini membuat pembaca dapat lebih mudah mendalami karakter dari kedua tokoh tersebut.
     Novel ini tidak hanya mengajak pembaca untuk menyelami romansa cinta antara Sebastian dan Katya, tetapi lebih dari itu. Saya cukup menyukai novel ini, karena mengangkat isu-isu yang cukup sensitif yaitu mengenai toleransi dan juga isu dari sisi sosial kemanusiaan melalui badan amal tempat Katya menjadi relawan. Tokoh Katya memiliki karakter yang kuat setelah berhasil melalui masa sulit dalam hidupnya. Pembaca akan diajak untuk dapat merasakan perubahan karakter dari Katya, yang dulunya anak manja menjadi Katya yang tabah, kuat, optimis, dan selalu menjadi penolong bagi oranglain yang membutuhkan bantuannya. Katya sangat berskyukut dapat tinggal di Edinburgh, dan dikelilingi oleh orang-orang yang sangat beragam. Ia justru menyadari betapa pentingnya agama dan beribadah ketika berada jauh dari negaranya. Di Edinburgh Katya mencoba belajar menjadi muslim yang baik dan belajar untuk menerima perbedaan-perbedaan di sekitarnya.
Di dalam novel ini, penulis banyak menyelipkan kata-kata bijak tanpa maksud menggurui.
“Kami tidak menoleransi segala bentuk kebencian. Di sini, kami mengajarkan untuk mengasihi orang lain tanpa syarat. Kalian masih muda, tidak pantas membenci orang lain begitu besar. Seusia kalian, seharusnya memandang dunia dengan bahagia.” (Hal. 58)


“Orang yang takut pada murka Tuhan, yang menjalani agamanya sebaik yang dia mampu, takkan sanggup menjahati oranglain.”
(Hal. 89)


“Setan bisa bersembunyi dengan sempurna di balik kulit seseorang.” (Hal. 93)

“Agama apa pun, mengajarkan pemeluknya untuk mengerjakan hal-hal baik. Jika manusia melakukan sebaliknya, bukan salah agamanya. Pada akhirnya, hal-hal buruk itu adalah tentang manusia yang ingin memuaskan setan di dalam dirinya.”(Hal. 109)


“Beribadah itu mengingatkan bahwa aku cuma manusia biasa yang punya banyak kelemahan. Aku tidak bisa melakukan apa pun tanpa izin-Nya. Kesukseskan itu tidak datang dari kerja keras belaka. Andil Tuhan jauh lebih besar, Cuma manusia kadang mengabaikannya. …” (Hal. 130 -131)


      Kelemahan novel ini, menurut saya yaitu cerita dari sisi Sebastian yang kurang kuat dan kurang mendapatkan porsi ceritanya. Penulis hanya menampilkan setengah-setengah saja, sehingga terasa kurang kuat, atau memang saya saja yang kurang bisa memposisikan diri sebagai Sebastian :D .
      Tetapi tokoh Katya pendalaman karakternya lebih sempurna, dan juga hampir semua tokoh di sekitar Katya memiliki peran yang membekas di hati pembaca, berbeda sekali dengan tokoh-tokoh di sekitar Sebastian yang hanya mendapat porsi seperti numpang lewat saja. Meskipun begitu, novel ini tetap memiliki banyak kelebihan dari sisi sosial kemanusiaan dan romance yang tidak dipaksakan, dibuat mengalir mengikuti alur cerita.  Sehingga novel ini menjadi salah satu bacaan yang layak untuk dibaca bagi para remaja dan orang dewasa yang menyukai genre romance, dan untuk kamu yang suka sekali isu-isu sosial kemanusiaan, serta isu perbedaan dalam beragama. 

Selamat Membaca ! : ))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar