Kamis, 13 April 2017

[Resensi Novel] Angan Senja & Senyum Pagi – Fahd Pahdepie


[Identitas Buku]
Judul Buku   : Angan Senja & Senyum Pagi 
Penulis         : Fahd Pahdepie 
Penerbit       : Falcon Publishing
Cetakan       : Cetakan Ke-1
Tahun Terbit : Maret 2017
Halaman       : 360 Halaman
ISBN           : 978-602-60514-5-5
Harga           : Rp. 85.000,- ( belum termasuk diskon via http://www.bukabuku.com/browses/product/2010001028048/angan-senja-dan-senyum-pagi-(edisi-ttd-+-non-bonus).html# )
My Rating     : 4 / 5 * 

****
[Blurb]
Hujan malam itu lambat dan panjang. Angan dan Pagi saling mematung, terpisah jarak dari kisah mereka yang beku di ujung waktu. Lanskap taman seolah tak ingin menunjukkan diri, lampu merkuri temaram di antara mereka berdua, dikaburkan rintik hujan.

Angan memperhatikan wajah Pagi. Wajah itu, wajah yang pertama kali ia lihat belasan tahun lalu dan membuat matanya nyalang semalaman, wajah yang entah bagaimana diciptakan Tuhan dengan alis yang sempurna, hidung yang sempurna, bibir yang sempurna… Tak pernah bisa pergi dari inti memorinya selama ini.

Angan melangkah mendekat ketika payung miliknya lepas dari genggaman. Kemudian ia menarik ujung payung bening milik Pagi. Angan masih bisa melihat wajah Pagi dari balik payung bening itu, meski titik-titik hujan masa lalu sedikit mengaburkannya. Namun, itu cukup buat Angan… Itu cukup. Sebab ketika ia mengecup payung itu, seolah di kening Pagi, ia tak perlu menjelaskan apa-apa lagi… 

Tentang Angan Senja yang tak pernah berhenti menanti Senyum Pagi.

“Kisah cinta yang dewasa. Liris. Manis. Puitis.” –Reza Rahardian, Aktor 

“Novel yang indah. Ada rasa kesal, lega sedih, haru, kecewa, bahagia. Semua jadi satu.” –Bunga Citra Lestari, Aktris dan Penyanyi
**** 
[Resensi]
 
“Hidup tetap indah kok, meski kita tak bisa menyelesaikan hitung-hitungan Matematika. Sebab hidup jadi indah karena kita tak selalu dapat memperhitungkannya, kan? Banyak hal dalam hidup ini nggak bisa dihitung. Cinta, persahabatan, misalnya. Perasaan manusia punya ketakterbatasan yang nggak bisa dimatematikakan.” (Angan, Hal. 66) 


       Angan Senja dan Senyum Pagi pertama kali bertemu pada tahun 1997 saat keduanya masih berseragam putih abu-abu. Saat itu Senyum Pagi sudah duduk di kelas 3 IPS C, sedangkan Angan Senja baru duduk di kelas 1 IPA A. Perjumpaan mereka terbilang unik, mereka bertemu ketika sama-sama sedang membolos, dan akhirnya menjadikan celah ruang tempat pertemuan tersebut sebagai ‘gua persembunyian’ mereka berdua.

     Angan Senja dan Senyum pagi adalah dua orang yang memiliki kepribadian yang saling bertolak belakang. Angan si jago matematika dan juara olimpiade matematika ini memiliki kepribadian yang cenderung introvert dan lebih suka membaca buku, sedangkan Senyum Pagi adalah kebalikan dari Angan, Pagi adalah tipekal cewek gaul dan punya banyak teman, nyentrik, menyukai musik, dan tidak menyukai matematika. Awalnya, Angan merasa terganggu dengan kehadiran Pagi ditempat persembunyiannya, karena Angan tahu bahwa semua detail kejadian hari itu serta segala ekspresi wajah yang ditampilkan oleh Pagi akan terus dapat Ia ingat sampai kapanpun karena telah masuk ke inti memori otaknya. Namun, kepribadian Pagi yang mudah bergaul dengan siapa pun, pada akhirnya berhasil membuat Angan keluar dari zona nyamannya, dan keduanya pun dapat akrab seperti sepasang sahabat atau bahkan sebenarnya lebih. 

       Sebagaimana kisah cinta anak SMA, diantara Angan dan Pagi pun muncul benih-benih perasaan diantara keduanya karena frekuensi pertemuan yang sering terjadi. Namun, entah mengapa keduanya tetap saling diam dengan perasaan yang dimilikinya, keduanya tetap meragu meski telah melakukan banyak hal bersama-sama. Hingga akhirnya Pagi lulus dari SMA dan melanjutkan kuliah, sedangkan Angan masih melanjutkan sekolahnya, perasaan keduanya tidak pernah jelas terungkap.
“Tetapi mereka tak pernah benar-benar saling tahu. Mereka tak pernah benar-benar mengungkapkannya pada satu sama lain.” (Ibun, Hal. 159)  


      Waktu pada akhirnya memberikan mereka jeda dimasing-masing jalan hidupnya. Tetapi ketahuilah, sesungguhnya Angan masih terus mencari Senyum Pagi, ingatan mengenai Senyum Pagi masih sangat jelas di inti memorinya.
“Seandainya orang lain mengetahui bahwa melupakan adalah sebuah kebahagiaan, mereka akan mengerti bahwa mengingat segalanya adalah sebuah penderitaan.” (Angan, Hal. 10)


       Tujuh belas tahun kemudian, Angan dan Pagi kembali bertemu. Saat itu, Angan sudah menjadi seorang yang sukses dengan pekerjaannya dan berada di usia yang matang untuk menikah. Sedangkan, Pagi telah memiliki seorang anak yang bernama Embun Fajar. Keduanya kembali bertemu karena keterlibatan Embun di konsernya Pak Jaret yang bertema Mathematical concert : A Journey to Infinity. Tentu saja, ternyata benih-benih perasaan itu masih tetap ada, tetapi keduanya telah memiliki jalan hidup masing-masing. Saat ini, Pagi sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Hari yang berprofesi sebagai pengacara, sedangkan Angan sedang gamang dengan surat wasiat yang ditinggalkan oleh ibunya. Angan masih berharap dengan Pagi, tetapi disisi lain Angan memiliki surat wasiat yang tidak bisa Ia acuhkan begitu saja. Setidaknya Angan ingin menjelaskan semuanya kepada Pagi.
“Mengapa aku harus terlambat menjelaskan semuanya? Harus menunggu berapa lama lagi untuk berani mengungkapkan semuanya?” (Angan, Hal. 204).

“Setidaknya, aku harus pernah menjelaskan dan mengungkapkan semuanya… Aku harus memperpendek jarak cinta di antara kita!” (Angan, Hal. 209).
****
       Angan Senja dan Senyum Pagi adalah novel fiksi bergenre romance yang ditulis oleh Fahd Pahdepie. Novel ini merupakan buku kedua Bang Fahd yang saya baca. Novel ini menyajikan cerita yang cukup menyegarkan dengan alur yang rapi dan sangat padat.

       Novel ini mengisahkan kisah cinta yang belum sempat terucap di masa lalu, kemudian menuntut untuk dapat diselesaikan di masa kini agar tidak terus menerus menjadi mimpi buruk dan penyesalan di masa mendatang. Sekilas mungkin terdengar biasa saja dan sudah sering mendapatkan tema cerita seperti ini. Namun, menurut saya, novel ini memiliki banyak kejutan kejutan disepanjang perjalanan cerita yang sayang untuk dilewatkan. Selain itu, novel ini cukup menarik karena menggabungkan filosofi antara matematika dengan musik, dua hal yang sangat bertolak belakang. 

       Jujur, saya jatuh hati dengan novel ini karena dua hal, pertama karena cover-nya dan yang kedua karena judulnya. Sampul depan novel ini jelas sangat keren, perpaduan warna dan gambarnya eye catching sekali sehingga mampu menarik minat saya untuk membeli dan mengoleksinya. Sedangkan untuk judulnya, saya merasa memiliki kedekatan emosional ketika membaca judul novel ini, dan saya memang yakin kalau isi novel ini akan mengajak pembaca mendalami kisah cinta yang dewasa bukan lagi kisah cinta anak SMA. 

       Penulis menggunakan alur maju yang diselingi oleh flashback cerita di masa-masa SMA, penggunaan alur maju yang diselingi oleh flashback ini bertujuan agar pembaca mengetahui secara keseluruhan cerita dari tokoh yang bersangkutan. Saya sendiri tidak merasa terganggu dengan alur cerita seperti ini, saya justru merasa seperti diajak menyusun potongan-potongan puzzle kehidupan para tokoh utama, banyak kejadian-kejadian di masa-masa SMA yang akhirnya mempengaruhi kehidupan para tokohnya di masa kini. 
“Sejak saat itu aku mengubah peta masa depanku. Mungkin, kalau aku jadi ekonom atau akuntan, kita akan bertemu di satu persimpangan… Kapan pun itu, di mana pun itu. Aku percaya suatu saat takdir akan membawaku menemukanmu. Seperti hari ini.” (Angan, Hal. 198) 


      Sudut pandang yang digunakan oleh penulis yaitu sudut pandang orang ketiga serba tahu. Selain itu, terkadang penulis juga secara jelas menuliskan PoV (Point of View) siapa yang sedang digunakan, sehingga pembaca tidak akan mengalami kebingungan. Sudut pandang seperti ini menjadi salah satu kelebihan dari novel ini, pembaca tidak akan mudah melupakan isi dari novel ini karena penulis berhasil menciptakan karakter tokoh yang kuat sehingga melekat di hati pembaca. 

      Salah satu keunikan yang saya suka di novel ini adalah penamaan tokohnya, nama-nama tokoh di sini menggunakan nama berbahasa Indonesia yang diturunkan dari penunjuk waktu, seperti Angan Senja, Senyum Pagi, Embun Fajar, Hari, Nyala Cakrawala, Dini, dan yang lainnya. Penamaan tokoh seperti ini memberikan warna tersendiri di dalam cerita, sehingga pembaca merasa menumukan hal baru dan tertarik untuk terus membacanya. Dari sekian banyak tokoh yang terdapat di novel ini, Embun Fajar adalah tokoh favorit saya. Embun Fajar memang baru berusia 13 tahun, tetapi kedewasaannya melebihi anak seusianya, serta ketegaran Embun dalam menghadapi kekurangannya pun dapat dijadikan contoh untuk terus semangat dan maju dalam mengejar cita-cita, sekalipun fisiknya tidak sempurna seperti oranglain. Obrolan yang terjadi antara Embun dan Pagi pun menjadi salah satu moment yang saya nantikan, percakapan ibu dan anak ini penuh dengan hal-hal mengejutkan, Embun bahkan terkadang terlihat lebih dewasa dalam menyikapi beberapa hal jika dibandingkan dengan sang Mama. Memang terkadang kepolosan anak-anak itu memberikan banyak pelajaran untuk kita yang sudah dewasa. :D 
“Ah, kalian konyol banget, sih! Ma, Mama harus mulai berpikir untuk ngikutin perasaan Mama… Mama harus bahagia.” (Embun, Hal. 219) 

“Kalau aku jadi Mama dan harus milih… Aku akan jauh lebih milih Om Angan…. Aku akan bahagia sama orang yang benar-benar aku sayang!” (Embun, Hal. 220) 


        Keunikan lainnya yaitu konsep mengenai infinity yang menjadi simbol persahabatan antara Angan dan Pagi. Mereka berdua sering mempraktekkan bentuk simbol infinity ini dengan tangan mereka. Menurut saya, Angan dan Pagi terlihat sangat manis setiap kali mempraktekkan simbol infinity, meskipun terkadang terasa kekanakan karena usia yang sudah tidak muda lagi, tetapi ternyata konsep infinity ini justru menjadi daya tarik tersendiri untuk pembaca, bahkan saya pun jadi ikutan mencoba membuat simbol infinity menggunakan tangan saya sendiri. 😅
“Ngan, aku jadi mulai suka Matematika. Simbol infinity itu keren, ya?” 
Angan menaikkan dua alisnya, “Infinity?”
Pagi mengangguk dengan mata berbinar, “Aku suka. Seperti angka delapan. Dia nggak pernah putus, tapi membentuk dua sudut. Seperti dua hati. Seperti cinta. Seperti persahabatan.”(Hal. 89)


       Seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak, begitu pun dengan novel ini. Sejujurnya saya sangat menyukai dan menikmati alur cerita di novel ini, tetapi entah mengapa saya agak kurang sreg dengan akhir ceritanya, terasa gimana gitu ya, semoga ada sekuel lanjutanya deh. Selain itu, di sini kurang banyak interaksi antara Angan dengan Embun, padahal saya berharap akan ada banyak interaksi yang terjadi di antara keduanya. 

      Naah, tenang saja, kekurangan itu sifatnya subjektif, hanya semata pendapat dari saya saja. Tetapi, percaya deh, novel ini layak banget untuk dibaca, karena membaca novel ini mengajak pembaca untuk tenggelam di dunia Angan dan Pagi yang penuh dengan berbagai rasa, mulai dari rasa kesal, haru, sedih, gregetan, kecewa, sampai rasa kebahagiaan. Membaca novel ini juga semakin membuat saya yakin, bahwa perasaan itu memang harus diungkapkan dan diselesaikan sejelas-jelasnya, jangan biarkan menyimpannya terlalu lama karena waktu tidak akan pernah menunggu, waktu akan terus berjalan, karena hanya dengan begitulah hidup kita bisa kembali berjalan dengan normal, tidak lagi terbebani dengan harapan yang entah ada atau tidak, sekalipun kelak hasilnya tidak sesuai dengan harapan, tetaplah percaya bahwa itulah jalan hidup terbaik yang telah ditakdir oleh yang Maha Kuasa. : ))
“Semua orang berhak bahagia… Pada waktunya, semua orang akan bahagia dengan jalannya sendiri-sendiri, Nduk. Tinggal kita mau mengambil langkahnya atau tidak.”(Hal. 154) 

“Rasa cinta akan menemukan jalan dan muaranya masing-masing. Sekuat apa pun setiap orang menahannya, sejauh apa pun jalan yang harus ditempuh… Jika mereka ditakdirkan bersama dan saling mencintai, mereka akan bersama pada waktunya.” (Hal. 159)

“Haruskah ia memperpendek jarak senar itu sekarang? Haruskah ia mengencangkan tegangan senarnya sekarang? Inikah satu-satunya kesempatan untuk menjelaskan dan mengungkapkan semuanya? Semua yang selama ini tersimpan baik dalam ingatan dan tertahan di lubuk perasaan?”. (Hal. 208-209)

“Kalau ditanya menyesal, aku menyesal. Tapi kereta waktu tak pernah menunggu penumpang yang ragu, kan? Waktu itu, aku melambaikan tangan, sambil menangis, ketika kamu pergi meninggalkanku menjadi titik yang makin lama, makin kecil… Lalu hilang dari pandangan. Dari pelukan. Aku merasa bodoh mengapa tak bertindak lebih gigih. Seperti laki-laki sejati…”. (Hal. 231)


Selamat Membaca!
Selamat Memasuki Dimensi Angan Senja dan Senyum Pagi !

4 komentar:

  1. Ahh penasaraaan bacaa novel lengkaapnyaa. Tfs mbaaak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuuk baca novelnya biar gak penasaran lagii :D , Terimakasih sudah berkunjung~ :)

      Hapus
  2. Sudah baca novelnya, bagus banget. Cuman lupa sama tokoh Nyala Cakrawala. Siapa ya dia? Seberapa penting perannya?

    BalasHapus
  3. Wahh jadi pengen langsung baca novel nya

    BalasHapus