Tampilkan postingan dengan label Muhammadiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhammadiyah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Agustus 2017

[CURHAT] NONTON BARENG FILM NYAI AHMAD DAHLAN

Poster film Nyai Ahmad Dahlan
Senin, 28 Agustus 2017 
Hari ini saya berkesempatan untuk menonton film Nyai Ahmad Dahlan yang sedang tayang di bioskop bersama dewan guru dan peserta didik SMA & SMP Muhammadiyah 4 Depok. Oh iya, ada juga lho dewan guru dan peserta didik dari SD Muhammadiyah 4 Meruyung~
Rame sekaliiii, bioskopnya sudah seperti milik kita bersama :’D

Kami semua berangkat menggunakan angkot yang jauh-jauh hari telah di sewa, eh tapi saya sih mengendarai motor, karena sudah terlanjur di motor jadinya memutuskan untuk tidak naik angkot deh *alesan* 😆 hehehe

Selasa, 14 Maret 2017

[Resensi Novel] Dahlan – Haidar Musyafa

[Identitas Buku] 
Judul Buku : Dahlan
Penulis        : Haidar Musyafa 
Penerbit      : Javanica Kaurama
Cetakan      : Cetakan Ke-1
Tahun Terbit : Januari 2017
Halaman      : 414 halaman 
ISBN          : 978 - 602 – 6799 – 20 – 3 
Harga          : Rp. 88.000 (sebelum diskon di http://www.bukukita.com/Biografi-dan-Memoar/Biografi/148932-Dahlan-Sebuah-Novel.html )
My Rating    : 3.8 / 5 bintang 
****
[Blurb]  
Ia terlahir dengan nama Muhammad Darwis. Ayahnya, Kyai Abu Bakar, seorang Ketib Amin di Masjid Gede Yogyakarta. Semenjak remaja ia sering bertanya: kenapa umat islam begitu terpuruk dalam banyak hal? Saat itu ia berpikir umat Islam terkungkung oleh hal-hal takhayul. Ia pernah mencoba bertanya dan memberontak, tetapi justru penolakan dan cacian yang didapatkannya.  

Keresahan batin mendorong Darwis menuntut ilmu setinggi-tingginya, hingga takdir melayarkannya ke Mekah. Di Mekah ia belajar pada banyak guru. Ia pun berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy, Imam Besar Masjidil Haram dari Sumatera, bersama teman seperjalanan dari Jombang: Hasyim Asy’ari. Di Mekah pula ia mendapat nama baru: Ahmad Dahlan. Sepulang dari Tanah Suci ia diangkat menjadi Ketib Amin Masjid Gede oleh Sultan Hamengkubuwana VII dan mendapat gelar Raden Ngabehi. Hasrat terpendam untuk memajukan umat islam mengilhaminya mendirikan sebuah peryarikatan bernama Muhammadiyah. Ia bercita-cita Muhammadiyah bisa menjadi lokomotif perubahan bagi umat Islam di Nusantara.